Cerpen - Ternyata Cinta Gue itu elo

thumbnail

Ternyata Cinta Gue itu elo

cerpen,cerita pendek,cerpan,cerita panjang,puisikamut 

 Cerpen

HAPPY READING


Hai..hai kenalin gue ashilla zahrantiara.. cukup panggil gue shilla aja
Pagi ini berangkat ke sekolah.. gue di jemput ma cowok gue.. Cakka Kawekas Nuraga..


Tin…tin
Bunyi klakson mobil..


Gue “ma,pa shilla berangkat ya” ucap gue ke ortu..
Bonyok gue “hati-hati ya sayang”


cakka "dah siap sayang"


gue "udah dong..yuk!!!!!!!"


@School B*** Internasional


oh ya.. gue punya 2 sahabat dari kecil yaitu Mario Stevano Aditya Haling dan Alyssa Saufika Umari mereka udah pacaran selama 2 tahun.. sedangkan gue ma cakka baru satu tahun,


gue "pagi iyo,ipy"


rio+ify "pagi cila hehe"


cakka "gue ke kelas dulu ya, bubey rio, ify, sayang"


gue "bye sayang"


rio "bye"


ify "bye"


yapz.. gue, rio ma ify kelas 11 1PA 2 sedangkan cakka 11 IPA 1


pelajaran pun berlangsung..
pak duta "pagi anak-anak"


semua "pagi pak"


pak duta "pagi ini kita kedatangan murid pindahan dari korea"


zahra "asek, ganteng dong"


pak duta "silahkan masuk alvin"


siswa ganteng, cool , putih dan sipit pun masuk ke dalam kelas
"hai semua gue Alvin Jonathan Sindunata pindahan dari korea, mohgon bantunnya" ucapnya dengan gaya yang cuek BANGET, SOK (just story)


angel "weh..boleh juga"


gue "hih, sombong banget gaya'a.."


Pak Duta "alvin kamu duduk sama rio di belakang shilla"


rio "hai gue rio"


alvin "ya"


rio " dia shilla dan ni cewek gue ify" sambil nunjuk gue n ify


alvin "owh.." ucap Alvin smbil manggut-manggut


istirahat tiba..


rio "kantin yuk sayang, yuk shill"


shilla "duluan aja deh"


ify "ya udah bye"


alvin "heh.. gue pinjem catatan lo dong" ucapnya dengan ketus


gue "gue tu punya nama ya, minjem kok ketus" dengan nada marah
"nih.." ucap gue dan dengan gue lempar tuh buku ke dia


alvin "santai aja kali"


gue “mending gue ke perpus aja deh”


@perpustakaan


gue lagi nyari buku biologi buat tugas..tinggal satu..aha'


"gu da.." belum selesai gue bicara tuh buku udah di ambil ma si nyebelin..siapa lagi kalo bukan alvin..


"ih..punya gue.."ucap gue


alvin " gue.."


"gue"


"gue"


"gue"


"gue"


"gue"


alvin "lo jadi cewek nyebelin banget"


gue "lo tuh yang NYEBELIN" ucap gue


"loe..."


"loe


"loe"


"loe"


ya..semenjak itu gue ma alvin sering bertengkar..udah 3 bulan gue ma dia gak pernah namanya akur


@taman belakang skul


gue "huh..dasar cowok gila"


dan tanpa sengaja gue liat cakka lagi berduaan ma agni


gue "cakka..agni" tanpa terasa air mata gue udah turun


cakka "bentar shil, aku bisa jelasin..agni bukan siapa-siapa gue”


agni "lho..maksud lo pa, gue ni cewek lo cak..kita udah pacaran 2 bulan"


gue "dasar cowok penipu lo" gue langsung nampar pipi cakka (sorry, just story)
"kita PUTUS, puas lo" dengan nada tinggi


gue langsung balik ke kelas..
gue langsung meluk ify


ify "loh..shill, lo kenapa?"


gue "cakka..selingkuh fy, ma agni udah dua bulan"


rio "sialan tuh cakka..beraninya dia gitu ke lo shill"


"jangan rio.. kita tenangin shilla dulu, jangan emosi" cegah ify sambil menahan tangan rio


"lupain dia shill, dia gak pantes buat lo" ucap rio


ify "ya shil, lebih baik lo tau sekarang dari pada nanti”


gue "andai dia di sini fy, yo..gue kangen ma dia" ucap gue sambil memegang kalung berinisial "NT"


ify “gue ngerti shil, gue juga kangen”


rio “gue juga kangen ma dia bukan lo ja shil”


tanpa di sadari alvin melihat


"lo sebenernya siapa si shill, kenapa kayaknya gue udah kenal lo, apa lo tu......argh gak mungkin" ucap alvin dalam hati
"tapi...kalung itu? ya kalung itu..." ucap alvin lagi dalam hati


setelah gue sampe rumah..gue langsung ke kamar gue


mama "sayang, kamu kenapa?"


gue "cakka jahat ma, dia selingkuh dengan agni"


mama "apa?" ucap mama kaget "ya sudah kamu lupakan saja dia"ucap mama lagi


gue "andai nata ada di sini ma, mungkin shilla gak kesepian,, shilla kangen ma sama dia"


mama "iya, mama tau.. tapi dengerin mama kalau kalian jodoh.. dia bakal balik lagi sayang" ucapnya sambil mengelus rambutku


gue "tapi kapan ma?"


mama "suatu hari nanti, percaya deh sama mama"


(ya.. nata adalah first love gue.. dia juga sahabat kecil gue, rio dan ify, tapi dia pindah ke korea udh 10 tahun yang lalu..)


Mama “ya udah mama keluar dulu..jangan di fikirkan terus”


Gue “iya ma”


Mending gue buka twitter
@ashilla_zahrantiara gue kangen lo nata.. kapan lo balik lagi ke Indonesia?


di tempat lain alvin tak sengaja membaca


@ashilla_zahrantiara gue kangen lo nata.. kapan lo balik lagi ke Indonesia?


alvin "nata? balik ke Indonesia? shilla.. apa jangan-jangan dia tiara?? gue harus selidiki,, ya.. rio dan ify..ya gue harus telfon mereka dan ajak ketemuan"


gue “yo..bisa ketemu gak? Ada hal penting Ajak ify juga”


rio “bisa kok.. dimana?”


Alvin “cafĂ© Asrf”


@cafe Asrf
ya.. alvin sedang menunggu rio dan ify..


rio "hai bro..sorry lama"


ify "ada apa ya vin?"


alvin "tolong jujur ke gue.. apa kalian vano dan fika? sahabat kecil gue, 10 tahun yang lalu?"


rio dan ify pun kaget..


rio "ja...ja...di.. lo nata?"


ify "lo nata vin?"


alvin "ya gue nata..."


rio dan ify pun lagsung memeluk alvin


rio "gile..kenapa kita baru tau sekarang?"


ify "kok lo bisa tau?"


alvin "rasanya gue udah kenal lama ma kalian..dan tadi gue nebak, dan ternyata tebakan gue bener.. oh ya buat shilla biar gue aja yang kasih tau dia"


rio+ify "okeh"


alvn "jiah..ga nyangka gue..kalian jadian"


rio "hehehe"
ify hanya tersenyum salting


keesokan harinya
@pinggir lapngan basket


agni dan cakka sedang bercanda...
gue pun nangis liat adegan itu gue langsung lari ke taman belakang skul dan duduk di salah satu bangku disana


"hiks....hiks"


alvin "ternyata lo cingeng banget si jadi cewek"


gue "diem lo, gue lagi ga mau berantem ma.."
belum sempet gua lanjutin perkataan gue..alvin langsung meluk gue..


alvin "ada gue..."


nyaman banget..itu yang gue rasa saat dalam dekapan alvin


gue “lo pasti seneng kan liat gue gini.. puas kan lo” bentak gue dan gue pun berontak tapi pelukan Alvin begitu erat.. akhirnya gue nyerah


Alvin “kok lo nuduh gue gitu si …hmm… tiaranya nata gak boleh nangis dong"


gue langsung ngelepas pelukan gue ma alvin


gue "elo?"


alvin "in gue nata..."


gue “gak..gak mungkin elo nata”


Alvin “ini gue nata shilla” smbil menunjukkan kalung “NT”


Gue langsung memeluknya erat


gue "nata? gue kangen ma lo? ke mana aja lo selama ni? kenapa lo gak ngaku dari awal?"


alvin "gue ug baru tu sekarang shil, dan itu awalnya dari.."


@flashback


gue "cakka..selingkuh fy, ma agni udah dua bulan"


rio "sialan tuh cakka..beraninya dia gitu ke lo shill"


"jangan rio.. kita tenangin shilla dulu, jangan emosi" cegah ify sambil menahan tangan rio


"lupain dia shill, dia gak pantes buat lo" ucap rio


ify "ya shil, lebih baik lo tau sekarang dari pada nanti


gue "andai dia di sini fy, yo.." ucap gue sambil memegang kalung berinisial "NT"




"YA..kalung itu yang buat gue makin penasaran dan gue selalu coba cari tahu..dari pas baaca twit lo.. gue langsung nelfon rio buat ketemu rio dan ify, ternyata bener..rio itu vano, ify tu fika dan lo tu..tiara" ucap alvin


"jujur...dari sebelum gue ke korea sampe sekarang perasaan gue tetep sama ke lo.. shil, gue cinta ama lo, sayang ma lo.. would you my girl friend?" ucap alvin sambil memegang tanganku dan menatap ku


"gue..gue..gak bisa" ucap gue dengan jail


"ya gpp kok shil" ucapa lvin..wajahnya pun berubah jadi lesu


"ih...gue belum selesai ngomong.. gue.. gak bisa nolak, I would" ucap gue


"ha? serius.. thank you sayang" ucap alvin lalu memelukku lagi


"sama-sama sayang" ucap gua


"cieeeeeeeee............PJ PJ lho Nata dan Tiara" ucap rio dan ify


"okeh" ucap alvin


lalu kami tertawa bersama sambil mengenang masa lau


"yapz...ternyata cinta gue itu elo alvin alias nata.. dan gue seneng banget kita bias bareng-bareng lagi seperti 10tahun lalu.. gue, elo, ify serta rio..betul kata mama, kalo jodoh gak akan ke mana.. Makasi Ya Tuhan" ucap gue dalam hati...


THE END

Cerpen - Bayiku

thumbnail

cerpen,cerita pendek bayiku,luqman sastra,cerita pendek tentang bayikuBayiku

 karya : Luqman sastra

Sang mentari begitu gagah hari ini, berdiri tegap seakan memanaskan bara di atas kepalaku, aku tergopoh lelah dari lariku atas polisi yang mengejarku, aku tak tahu lagi kenapa kulakukan semua ini, mencuri dompet orang-orang di pasar, tapi aku tak punya sesuatu untuk membiayai istriku yang hamil anak kami yang pertama dan akan melahirkan.
“Ah..biarlah, sudah mendingan aku mencuri dari satu orang dari pada para karuptor yang mencuri uang semua rakyat, lagian janji-janji mereka untuk membantu orang seperti kami tidak juga terjadi” batinku..
Dua jam sudah aku bersembunyi di balik tumpukan keranjang yang memuat sampah-sampah, walaupun bau, aku terpaksa bersembunyi, karena terakhir aku dengar, orang yang tertangkap mencopet dan mencuri di penjara tiga bulan, belum bogem mentah orang-orang sekitar pasar. Apa yang bisa aku berikan pada istriku jika aku di penjara.


Dengan mengendap-endap ku kuberanikan diri muncul dan berjalan seolah tak ada sesuatu yang telah terjadi, ku jalani lorong-lorong sempit menuju rumahku.
Ternyata resiko yang aku ambil terlalu berat untuk mencari uang, jika saja aku tak berhenti kerja tahun lalu, mungkin semua ini tak perlu aku lakukan, tapi PHK itu sungguh membuat beban keluarga kami begitu berat, apa lagi untuk kelangsungan bayi yang kelak akan lahir nanti. Dasar pemimpin perusahaan yang tak tahu diri, kami sudah bekerja dan mengabdi bertahun-tahun tapi tak di beri bonus malah di PHK!
Selagi aku menghitung hasil curian, aku membayangkan bagaimana wajah istriku, pasti dia sangat senang, karena aku lihat uang yang ada dalam dompet ini begitu banyak, ini adalah anak pertama kami dan akan aku rawat benar-benar agar menjadi orang yang bisa aku banggakan dan menjadi orang besar.
Selama ini aku berbohong pada istriku, aku mengaku sudah dapat kerja di tempat teman lamaku, padahal pekerjaanku adalah mencuri, tapi aku pikir, ini adalah cara satu-satunya. Memang benar kalau dulu temanku memberikan aku pekerjaan, yaitu menjadi satpam, sayangnya tempat itu begitu jauh dari rumah, akupun tak punya kendaraan, kalau berjalan mungkin memakan waktu lama, lagian siapa yang akan mengurus istriku yang sedang hamil, aku tak mungkin tega meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, apa lagi di rumah cuma tinggal kami berdua.
Sesampai di rumahku, langsung ku cari istriku, ku cari di kamar tidak ada, lalu kucari di dapur, ternyata juga tidak ada,

“ Rani!!!...Rani!!!, di mana kau nduk, aku sudah pulang!!..teriakku memanggilnya.
Namun tetap saja tak ada jawaban, lalu ku cari ke rumah tetangga, tetap saja tidak ada.
“Apa yang sebenarnya terjadi di sini, di mana istriku? Dia sedang hamil Sembilan bulan, tak mungkin pergi jauh-jauh, ah..apa mungkin ke pasar? Sedang uang untuk belanja saja belum aku berikan”
Sehari sudah aku menunggunya, ternyata tidak juga dia datang, aku mencoba mencari lagi ketempat tetangga, namun hasilnya sama saja, mereka tidak tahu. Tiba-tiba ada yang menyapaku.
“ Hei baskoro! sedang apa kau di sini? Apa kau tidak mengantar istrimu pulang kampung? Tadi aku lihat Rani di jemput kedua orang tuanya.” Kata bardi tetanggaku
“Sejak kapan dia pergi?”
“Sejak tadi pagi, mungkin beberapa jam setelah kau pergi”
“ Oh begitu, pantas aku cari tidak ada, apa dia mengatakan sesuatu untuk aku, pesan mungkin?”tanyaku pura-pura tenang
“Wah aku tidak tahu Bas, sepertinya di sedang terburu-buru”
“Apa mungkin ada sesuatu yang terjadi di daerahnya?” batinku
“Ya sudahlah, mending kau susul saja dia di kampungnya”
“Baiklah, aku akan segera kesana,”
Tanpa basa-basi aku langsung masuk rumah dan menyiapkan bekal perjalanan, dalam benakku aku begitu bingung atas apa yang telah terjadi, rumah Rani memang hanya seberang desa, tapi sekalipun dia akan pulang, seharusnya pamit terlebih dulu padaku atau menunggu aku pulang, ini sungguh tidak biasa.

Derik jangkrik mengantarku dalam perjalanan, dan lengking suara anjing peliharaan yang seperti ketakutan juga terdengar. Kunang-kunang juga enggan malu bersinar di bawah langit malam yang mendung, sepertinya akan turun hujan,
Ternyata benar, belum sampai aku ketempat Rani, hujan sudah mulai turun, aku bergegas berteduh di bawah pohon besar yang kira-kira berusia puluhan tahun, segera kuambil sarung dalam tas bawaanku, ku pakai agar tak kedinginan.
Rentetan air tetap saja turun dari daun yang basah, sehingga sama saja kena air tubuhku yang berselimut sarung. Beberapa jam kemudian hujan mulai reda, aku bergegas melipat sarungku yang sedikit basah,
Kulanjutkan perjalananku ke rumah Rani dengan tergesa-gesa, walau jalanan licin tetap saja kupercepat lajuku, jika melihat jalan begitu gelap ini, seperti hutan yang belum terjamah saja, tak ada lampu yang bisa menerangi jalan, terakhir aku lewat sini ada satu lampu yang menerangi jalan, mungkin karena hujan tadi, jadi kongslet. Setelah aku amati di mana dulu letak lampu itu, ternyata sudah tak ada lagi, terlihat bekas tiangnya yang roboh.
Saat aku melihat bekas tiang dan dengan langkah kaki yang cepat, aku tak melihat ada batu yang menyandungku, karena kaget, aku tersandung dan setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi.

Saat aku terbangun, aku merasa kepalaku pusing dan penglihatanku sedikit buram, badanku terasa lemas dan lemah, aku mencoba meraba kepalaku ternyata telah terbungkus sesuatu seperti kain.
Lima menit kemudian aku mulai bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi, aku melihat sekitarku adalah rumah dengan tembok anyaman bambu. Terlihat juga sosok perempuan yang sedang tertidur lelap di sampingku. Setelah aku melihat dengan jelas ternyata Rani Istriku.
“Rani…Rani,” bisikku pelan, karena badanku masih lemah
“Rani.. bangun Nduk!”
Ia terlihat setengah sadar, dan mulai melihatku.
“Mas..!!kamu sudah sadar?” kata dia seperti kaget
“Sebentar mas, aku ambilkan minum dulu”
Diambilnya gelas yang berisi air putih dan membawakan untukku, aku mengumpulakam tenagaku untuk bangun dan bersandar pada tembok.
“ Apa yang terjadi Nduk? Di mana kita? Seingatku, aku menjemput kamu di rumah Orang tuamu”
Dia mulai menceritakan apa yang terjadi, bahwa aku ditemukan sesorang yang sedang lewat di mana aku sedang terjatuh, lalu aku yang saat itu tidak sadar di bawa kedesaku, sesampai di sana, ada orang yang mengetahui siapa aku dan mengantarkan kedalam rumahku. Karena pendarahanku begitu parah, mereka langsung mengantarkanku ke Rumah Sakit.
Istriku yang baru diberitahu keberadaanku, langsung menjenguk dan menemaniku, untuk membayar uang rumah sakit, Istriku menggadaikan rumah kami satu-satunya, walaupun sudah menggadaikan rumah dan mengambil uang hasil copetan yang ada di tasku, uang kami tidak cukup, sehingga istriku meminta meneruskan merawatku di rumah, karena tak ada biayanya. Setelah itu, karena rumah telah di gadaikan, ia mengontrak rumah ini untuk menungguku tersadar.
“Berapa bulan Nduk aku tak sadarkan diri?’ tanyaku
“sekitar 6 minggu Mas”
“ Apa? Selama itukah aku pingsan? Lalu mana bayi kecilku yang kita idamkan selama ini Nduk?”
Rani tiba-tiba menangis dan lari keluar.
“Rani…! Kenapa kau ini? Mana anak kita?”teriakku.
Aku mulai gelisah melihat sikap Rani, aku memaksakan diri untuk berdiri, dengan terengah-engah akhirnya aku bisa berdiri walau tersendal jalanku. Aku melangkah dengan pelan keluar rumah, kulihat Rani menangis di bawah pohon sawo. Ternyata tempat ini berada tak jauh dari rumah orang tuanya, terlihat dari banyak pohon-pohon sawo dan nangka.
Kuhampiri dia dengan pelan, dia duduk dan begitu keras menangis hingga tak mendengar langkahku yang mendekatinya.
“ Nduk, kenapa kau menangis? Di mana anak kita? Apa dia di rumah Ibumu?”
“Ti..tidak mas”
kata-katanya terpatah-patah karena menangis dan kaget melihat aku telah di sampingnya.
“ Lalu di mana anak kita? Dan bagaimana kau dapatkan uang untuk mengontrak rumah ini?
Dia tetap menangis dan menutup mukanya. Aku biarkan ia menangis, dan kutunggu beberapa menit untuk menunggunya berhenti. Aku duduk di sampingnya yang menghadap rumah yang kami huni saat ini. Aku amati benar rumah yang kecil itu, lalu tiba-toba Rani mengucapkan sesuatu.
“Apa mas mau tahu jawabanya?” katanya sambil menangis
“Tentu nduk”
“Bayi yang Mas cari tak ada di rumah ibuku”
“Lalu?”
Rani mulai membisu lagi, seakan enggan mengatakan sesuatu terhadapku. Kupandangi dia dengan berharap-harap.
“Mas…Bayi kita…bayi kita ada di depan Mas” kata Rani dengan tersenggal-senggal karena menangis.
“Apa maksudmu Rani?” kataku kaget mendengar perkataan Rani
“Bayi kita adalah rumah yang ada di depan kita”
“Rani apa maksud kamu” bentakku sambil ku pandang tajam mata Rani

Rani menangis lagi, dengan tersengal-sengal, aku hanya bisa memandang ia yang sedang menangis dengan pandangan yang tajam. Seakan tak percaya yang terjadi.
“Rani.. apakah kau telah menjual anak kita? Rani.. katakan Rani!!!” bentakku
Ku ucapkan pertanyaan itu berkali-kali dan dengan semakin keras, ku ucapkan sambil aku goyangkan badan Rani yang tetap saja menangis dan terus menangis.

Cerpen - Dua hari sebelumnya

thumbnail

Dua Hari Sebelumnyacerpen,cerita pendek,luqman sastra 


karya : Luqman Sastra
Kepulan asap hitam menyebar seperti mendung diatas langit. Suara deru mesin berlomba untuk mencari siapa yang lebih keras. Wajah-wajah berang terpancar dari para supir angkot dan pengendara lainnya, lantaran udara begitu panas tapi mereka harus terjebak lampu merah pada perempatan jalan. Suara penjual Koran juga mengaung diantara deru suara mesin, berharap akan ada yang membeli.

Di antara hiruk pikuk keadaan di perempatan, ada sesosok wajah yang tak pantas berada di sana, seorang anak perempuan dengan pakaian lusuh, dan berusia sekitar dua belas tahun. Mengacungkan telapaknya kepada para pengendara. Dan sesekali mereka memberikan uang receh.


Siapa yang tak kenal dia, semua penjual dan orang-orang yang sering di perempatan tahu siapa anak kecil itu. Dia adalah Ani, anak dari Suryani si pelacur yang juga sering mangkal di perempatan waktu malam. Ani adalah anak yang sejak lahir tidak diinginkan kehadirannya. Dari dulu ia diperlakukan kasar oleh ibunya.

Wajah Ani hari itu begitu sayu, ia belum sarapan pagi, tangannya terlihat kotor dan kecoklat-coklatan akibat setiap hari mengemis. Setiap lampu perepatan sudah hijau ia berteduh pada pohon di pinggir jalan. Berdiam diri sambil menghitung hasil pendapatannya, sesekali uang itu ia sisakan untuk membeli minuman atau makanan. Tapi karena uang itu sangat sedikit maka ia urungkan niatnya untuk beli makanan, karena ibunya pasti akan memukulnya bila hanya mendapat uang sedikit. Pernah dulu ia membeli makanan walaupun uang yang ia dapat sangat sedikit, sampai dirumah ia pukul dan ditampar oleh ibunya sendiri. Maka ia sangat takut pada ibunya.




Siang itu perut Ani seperti menangis dan menjerit, tenggorokannya seakan tak ada cairan, uang yang ada tak cukup untuk mengobati kelaparan dan kehausan. Apa boleh buat, ia urungkan niatnya membeli makanan. Ketika habis ashar, ia dapati seorang pengendara yang memberikan ia uang cukup besar baginya.

“wah…lima ribu, terima kasih bu…” jawabnya dengan gembira.

Dimasukkannya uang itu dalam kantung celananya. Uang Ani mulai terkumpul banyak, tapi untuk ibunya, uang itu tak cukup banyak. Maka ia dia hanya membeli sebuah minuman untuk mengisi perut laparnya. Dia mulai berjalan ke sebuah warung dekat perempatan. Warung itu sedikit gelap karena cahaya matahari tak masuk, dari jauh sudah terlihat kerumunan orang yang keluar masuk pintu warung. Penjualnya adalah seorang ibu yang berbadan sangat subur, penjual itu bernama Saminah, atau para pelanggan biasa memanggilnya mbok Minah. Dengan cirri khas rambutnya yang diukal, tangannya mulai mencampur-campurkan nasi dengan lauk pesanan pelanggan. Tangannya begitu cepat, lantaran sudah hapal letak-letak lauk. Mbok Minah menjual minuman dan nasi dengan lauk pauk yang bermacam-macam, seperti ikan, tempe, telur, dan lain-lain. Dalam berjualan dia hanya dibantu dua pegawainya. Walau begitu, warung dengan luas sekitar lima meter ini cukup laris.

Mbok Minah sudah kenal dengan Ani, ia tahu kondisi yang di hadapi anak itu. Insting seorang ibunya muncul ketika ia melihat Ani yang terlihat kurus dengan baju yang lusuh. Maka kadang-kadang Ani membeli minuman tanpa membayar. Warung mbok Minah dulu pernah rusak gara-gara banjir yang menggenangi kawasan desa. Dagangannya hanyut tak bisa terselamatkan. Seminggu ia tak berdagang dan mengungsi ke kawasan tinggi.

Selang waktu, akhirnya Ani mampu bertatap dengan Mbok Minah, setelah tadi berdesakan dengan pembeli lain yang mengantri.

“Mbok aku beli es tehnya satu ya!” lantang suara Ani diatara suara lainnya.

Mbok Minah yang merasa sudah akrab dengan suara itu langsung mencari sumber suara.

“Oh..kamu nok, iya sebentar ya! Neng!... buatin es Teh satu!” suruhnya pada pekerjanya.

“Ini nok..!”

“Iya mbok, ini….lima ratuskan?” diulurkan tangannya yang memegang uang lima ratus.

“Alahh.. tak usah nok, disimpan saja, mungkin bisa buat beli keperluan lain” suara simbok terpecah suara pembeli lain yang mulai banyak berdatangan.

“Makasih ya Mbok” jawab Ani yang mulai terdesak dan keluar kerumunan.

Bayangan benda mulai memudar, langit menguning sedikit merah, waktunya Ani pulang kerumah. Di telusurinya jalan yang berliku, tanpa alas kaki ia berjalan melewati jalan setapak yang langsung menuju rumahnya. Rumah ani tak cukup besar, ia dan Ibunya hanya mengontrak, rumahnya sangat kecil. Sebagian besar yang membayar kontrakan adalah Suryani dengan uang hasil melacurnya. Ani begitu kaku ia berjalan, bermuram wajahnya, teman-teman yang menyapanya tak ditanggapi, karena ia sudah benar-benar tak bertenaga. Ani memang terkenal orang yang pendiam, walau begitu, ia tetap senang bermain dengan teman-teman yang lain.

Sampai di dalam rumah, ia masukkan hasil mengemisnya ke dalam sebuah wadah besi bundar yang sedikit berkarat. Sudah semestinya ia meletakkannya di situ, karena ia ingat muka seram ibu ketika ia lupa memberikan uang pada tempatnya. Sesungguhnya dia sudah begitu lapar dan berpikir untuk mengambil uang di kaleng, tapi lagi-lagi ia terngiang wajah ibunya ketika marah.

Sehabis itu, ia membujur pada tempat tidur, berharap rasa laparnya akan hilang bila ia tidur. Hari itu ia akhiri dengan tak makan sama sekali. Padahal sehari sebelumnya ia juga tak makan hanya minum.


Terlalu lelah ia seharian ini, akhirnya ia terlelap atas jeritan cacing-cacing dalam perutnya. Wajah polosnya tertutupi sendu atas takdir yang menimpanya.

Kokok ayam mulai berdendang mengawal mentari yang akan menjelang datang dengan cahaya hangatnya atas malam yang dingin. Ani yang merasa kedinginan terbangun paksa. Ia baru sadar tak memakai selimut, sepertinya ia lupa dan tertidur lelap. ia pun bangun dan sedikit menggigil. Ia mencoba bangun tapi badanya terasa tak ada daya. Hati Ani bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tak sanggup berdiri. Apa mungkin karena kemarin tak makan sehingga badanya lemas?tanyanya pada diri.

Beberapa menit kemudian ia merasa bertenaga dan sanggup berdiri. Benar, Ani mulai sanggup berdiri, ia berjalan keluar kamar, dilihatnya dengan mata yang sayu kaleng yang ia isi kemarin sore. Ia rogoh, ternyata sudah tidak ada. Ternyata Suryani tadi malam pulang dan mengambil uangnya. Tapi ia langsung pergi. Tidak aneh Ani melihat keadaan ini. Ia sudah biasa dengan Ibunya yang pulang hanya mengambil uang hasil mengemisnya. Terkadang Ibunya meninggalkan nasi di meja kecil. Tapi selama tiga hari ini tak dapati. Terpaksa ia menahan lapar lebih lama lagi.

Ibunya sudah tak perduli lagi dengan Ani. Semua itu terjadi sejak ayahnya meninggal. Ibunya mulai frustasi dengan kehidupan yang serba kekurangan. Dulu, Suryani dan Ani tinggal dalam rumah sendiri bersama ayahnya. Rumah itu layak ditinggali. Ayah Ani bernama Bardi, dia adalah supir angkot yang bekerja seharian untuk membiayai Suryani yang saat itu mengandung Ani. Bardi dikenal oleh teman-teman pekerjanya seseorang yang baik, wajahnya berjenggot dan berkumis menggambarkan ia begitu bijaksana. Ia dan Suryani menikah sudah sekitar dua tahun, dan ini pertama kalinya mereka mendapati calon bayi yang nantinya akan menjadi anak mereka. Kehidupan mereka berdua sangat sederhana. Tapi tiba-tiba menjelang kelahiran Ani suami yang dibanggakannya meninggal karena kecelakaan. Ia bertabrakan dengan truk yang membawa batuan.

Meninggalnya Bardi menyebabkan Suryani terpaksa membiayai pemakaman dan semua keperluan kandungannya. Ia tak percaya atas apa yang terjadi. Suaminya tak bisa melihat anaknya yang pertama. Entah perempuan atau laki-laki.

Saat itu Suryani benar-benar terpukul, kandungannya sudah sembilan bulan. Dan sebenarnya sudah tinggal menunggu kelahiranya. Suryani bingung dengan keadaan itu. Ia tak punya siapa-siapa. Bayi yang dikandungnya tak ada artinya bila suaminya meninggal.

Untuk biaya kelahiran Ani, ia menjual rumah sederhananya, karena tabungan yang ada selama ini habis untuk biaya penguburan Bardi dan biaya kehidupan sehari-hari. Uang hasil menjual rumah ia bayarkan untuk mengontrak rumah dan sisanya ia gunakan untuk modal usaha berjualan. Saat itu Suryani masih punya semangat ntuk menghidupi bayinya. Akan tetapi ternyata dagangannya tidak laris, maka ia pun menyerah dan berhenti berjualan. Dengan kondisi yang seperti itu Surayani terpaksa berhutang pada seorang laki-laki yang tak begitu dikenalnya. Tapi yang ia dengar ia sanggup memberi uang pinjaman dengan bunga yang ringan. Dia-pun meminjam uang tanpa tahu siapa sebenarnya laki-laki itu.

Waktu untuk membayar hutang telah tiba, Suryani tak sanggup membayar hutang, sekalipun bunga itu kecil. Laki -laki itu pun mengancamnya, tapi ia boleh tidak membayar hutang dengan syarat ia harus mau melayani laki-laki lain. Dengan kata lain ia harus mau melacur. Tanpa daya apapun Suryani hanya bisa mengikuti kemauan laki-laki yang ternyata germo itu. Beberapa bulan telah ia jalani dengan menjual tubuhnya. Anaknya yang masih kecil hanya ia titipkan kepada orang lain dengan bayaran. Terus-menerus sampai sekarang, dan kini Ani yang sudah berumur dua belas tahun.

Satu jam sudah Ani berdiam seperti orang yang ling-lung. Ia mencoba mengumpulkan tenaga untuk berjalan keluar rumah dan selanjutnya pergi ke perempatan. Apa boleh buat. Ia hanya sebuah boneka yang berjalan. Berjalan tanpa pikiran di otaknya. Sampai di perempatan mukanya tetap musam dan muram. Pagi itu rasa lapar yang dialami Ani begitu hebat, badanya bergetar tak karuan. Tanpa sengaja Ia merogoh sakunya, ternyata ada uang seribu rupiah sisa kemarin. Tanpa pikir panjang ia membeli minuman dan sebatang pisang, dengan berharap bisa menggajal perutnya.

Hari seperti biasanya, panas dan penuh debu. Namun, perempatan begitu sepi, lalu-lalang yang terjadi tak seperti biasa. Sampai siang hanya ada beberapa motor yang lewat. Sepertinya ada sesuatu yang membuat para pengendara mobil enggan lewat perempatan. Benar saja, tiba-tiba banyak sekali mahasiswa yang berdatangan, mereka membawa sepanduk penolakan proyek yang kabarnya akan menimbulkan limbah yang beracun. Mereka bernyanyi-nyanyi melantunkan yel-yel penolakan di tengah perempatan. Kehadiran puluhan mahasiswa itu memacetkan jalan, sehingga para pengendara berhenti.

Sementara jalanan yang mulai penuh, Ani tak tahu apa yang dilakukan orang-orang itu, dia tidak tahu apa maksud tulisan pada spanduk itu karena ia tidak pernah sekolah. Dengan terpana melihat kejadian itu. kini ia hanya duduk dengan lemah di bawah pohon dekat perempatan. Ia begitu bingung dengan keadaan yang ada. Keadaan ini memberikan dorongan Ani untuk pulang, karena mungkin akan ada kerusuhan. Ia berniat pulang, namun mengingat hari ini ia belum mendapatkan apa-apa maka lagi-lagi ia urungkan niatnya lantaran terbayang ibunya yang marah.

Hiruk pikuk yang ada di perempatan mulai memanas, sebuah truk yang mengangkut puluhan polisi mulai berdatangan, mereka turun dan membentuk barisan mengusir mahasiswa. Mahasiswa yang tidak terima bercek-cok dengan polisi. Kedua belah pihak seakan siap berperang.

Ani dengan keadaan lemas mencoba berdiri, menghindari konflik yang mulai bermunculan. Sekarang ia benar-benar ingin pulang. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan panas matahari. Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan menuju rumahnya. Ia tak perduli lagi akan apa yang terjadi nanti ia pulang dan ibunya mendapati ia tak mendapatkan uang. Apa yang akan terjadi diperempatan pun ia tak peduli. Otaknya sungguh tak mampu untuk berpikir. Yang ia tahu hanya pulang dan pulang. Badanya dipaksanya menopang badan yang kurus. Dengan pandangan yang kosong ia berjalan. Sesekali berhenti bersandar pada pohon di pinggir jalan.

Beberapa waktu kemudian ia sampai di rumah, masih dengan tubuh yang sangat lemah ia masuk dalam kamar dan berbaring. Tak sanggup lagi ia berkata apapun bahkan untuk berpikirpun ia tak sanggup. Matanya kosong menatap atap rumah. Nafasnya begitu berat. Tanpa sadar matanya telah tertutup karena lelah yang amat sangat. Dua hari ini begitu melelahkan. Dua hari ini Ani tak makan apapun, setelah sehari sebelumnya ia juga tidak makan. Badanya menjadi sangat kecil dan hitam, tubuhnya yang mungil kini terbaring di atas kasur yang keras. Wajahnya dulu terlihat segar kini terlihat pucat dengan bibir yang pecah. Sepertinya ia sudah di ujung batas. Sepertinya tubuhnya tak sanggup lagi menopang tubuh walau tubuh itu kecil. Hatinya juga sudah tak sanggup mengangkat beban hidup yang telah digariskan. Mungkin ketika ia terbangun lagi nanti, ia akan merasa lebih baik, dimana tak akan ada lagi orang yang memarahinya.

Benar saja, wajahnya mulai membiru dan tubuhnya menjadi dingin. Sekarang ia telah mendapatkan kedamaian atas hari-harinya yang penuh beban. Ia akan aman di sana tanpa suara bising motor dan mobil. Tanpa berdiri di bawah matahari yang membakar kulitnya. Ia tak akan lagi merasa lapar, selamanya.

Cerpen - Mimpi Terindah Sebelum Mati

thumbnail
cerpen,cerita pendek,cerpan
Mimpi Terindah Sebelum Mati

Cerpen Maya Wulan


RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.


Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005


RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005

#repost :  luqmansastra.blogspot.co.id

Cerber - karena gue masih sayang lo

thumbnail
cerber,cerpen,cerita panjang 
 #repost
Ada yang pernah baca cerbung ini sebelumnya??
Kalo pernah ada yang baca, ini cerbung dari part 1 sampe ending (amiinnnn)
aku posting diblog aja yaaa?? kalo banyak peminatnya, Insyallah bakalan tetep aku lanjut.


Oya, jgn lupa follow twitter aku doongg ===> @MimyAkhmad :D


semoga suka yaaa???





^_^





“nggak tau kenapa gue tiba-tiba kangen sama lo Kodok…”


^_^



Sivia udah nggak bisa nolak lagi. Mau nggak mau suka nggak suka Sivia harus tetap ikut dengan Alvin juga  Mamanya untuk pulang kerumah Alvin. Gimana mau nolak kalo Mama Alvin langsung yang nelpon Bunda dan minta ijin pada Bunda untuk membawa Sivia pulang kerumahnya.
            Bunda juga kan belum tau kalo Alvin dan Sivia udah putus. Bukannya Sivia nggak mau ngasih tau Bunda, tapi selama beberapa bulan ini Sivia nggak nemuin cara yang tepat buat ngomong langsung ke Bunda.
            Kalo mereka putus secara baik-baik mungkin Sivia bisa langsung ngasih tau ke Bunda tanpa beban sama sekali, tapi ini mereka putus karna Alvin selingkuh sama cewek lain, dan kalau Bunda tau itu, Bunda pasti akan sangat kecewa. Sivia nggak mau bikin Bunda kecewa.
            Sivia semakin gondok aja pas Mama Alvin minta Sivia duduk dijok depan bareng Alvin. Sepanjang perjalanan Sivia Cuma manyun. Dia nggak mau sedikitpun ngeliat muka Alvin yang memuakkan itu.
            Mama Alvin mulai heran. Kenapa dari tadi Alvin dan Sivia Cuma diem aja. Kenapa mereka nggak saling tegur. Nggak mau terus-terusan larut dalam kebingungan Mama Alvin mutusin buat bertanya pada siapa aja salah satu dari mereka yang mau jawab.
            “Alvin, Sivia, kok dari tadi kalian Cuma diem aja, kalian lagi ada masalah ya….?”
            Alvin yang sedari dari tadi memasang raut wajah cool langsung mengubah ekspresi wajahnya jadi semanis mungkin, tapi Alvin nggak sadar kalo ekspresinya itu bikin Sivia tambah muak,
            “hehehe…. Nggak ada masalah apa-apa kok Ma, iya kan sayang?” kata Alvin seraya menyenggol lengan Sivia. Sivia terkesiap dan langsung melirik tajam kearah Alvin.
            “apaan sih?” gumam Sivia hanya dalam gerakkan bibir saja. Alvin melotot tajam. Sivia yang paham dengan maksud Alvin langsung menoleh kebalakang seraya berusaha memasang tampang semanis mungkin kayak yang Alvin lakuin,
            “nggak ada masalah apa-apa kok Tan….” Kata Sivia dengan penuh tekanan.
            “yakin nggak ada apa-apa…? Tapi kalo nggak ada apa-apa kenapa dari tadi kalian Cuma diem aja….?” Tanya Mama Alvin lagi dengan tatapan menyelidik,
            “nggak apa-apa kok Tan, lagi males ngomong aja!” jawab Sivia tanpa sadar. Mendengar jawaban Sivia kedua alis Mama Alvin langsung bertaut. Heran banget sama jawaban Sivia.
            “Via lagi sariawan Ma, makanya males ngomong….” Kata Alvin buru-buru sebelum Mama curiga.
            “oooo…..” ujar Mama seraya mengangguk beberapa kali.


^_^

            Sesampainya dirumah Alvin langsung turun dari mobilnya dan langsung nyelonong gitu aja kedalem rumah. Lagi-lagi Mama heran. Ada apa sih sebenarnya dengan Alvin dan Sivia? Nggak berapa lama setelah Alvin turun dari mobil, Sivia dan Mama juga turun.
            Mama menatap heran kearah Sivia. Menanggapi tatapan Mama, Sivia Cuma bisa tersenyum.
            “ayo masuk!” ajak Mama seraya merangkul Sivia. Sivia Cuma mengikuti tanpa berkata banyak.
            “Tante” panggil Sivia saat mereka mereka tiba diruang tamu,
            “ada apa sayang?”
            “Via mau nyusul Alvin bentar ya kekamarnya, boleh kan?”
            “ya bolehlah sayang? Kenapa mesti nanya?”
            “ya udah, Via keatas ya….?” Pamit Sivia sambil menunjuk kearah lantai 2 rumah Alvin. Mama Cuma mengangguk dengan mantap. Selepas kepergian Sivia, Mama Alvin langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sebenarnya Mama masih sangat heran dengan tingkah Alvin dan Sivia, tapi Mama nggak mau terlalu ikut campur urusan mereka. Biar mereka yang nyelesein sendiri masalah mereka. Fikir Mama Alvin yang masih belum tau apa-apa.

^_^

            “awas lo kodok, jangan panggil gue Sivia Azizah kalo gue nggak berhasil ngasih lo pelajaran….” Dumel Sivia sepanjang jalan sambil meninju-ninjukan kepalan tangan kirinya ditelapak tangan kanannya.
            Sivia bener-bener gondok sama Alvin, bener-bener sebel sama Alvin. Gara-gara Alvin, Sivia harus datang lagi kerumah Alvin, dan parahnya Sivia harus ngebohongin Mama Alvin yang begitu baik sekaligus sayang padanya.
            Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sivia langsung aja masuk kedalam kamar Alvin. Alhasil Alvin yang waktu itu lagi ganti baju dan lagi dalam keadaan telanjang dada terkejut setengah mati.
            “aaaaaa…..” teriak Sivia seraya menutup kedua matanya rapat-rapat. Sivia langsung berbalik. Alvin yang masih kagetpun langsung meledak emosinya,
            “Woyy… lo apa-apaan sih? Masuk kamar orang sembarang, udah gitu nggak pake ketok pintu lagi….”
            “pake baju lo buruan! Gue perlu ngomong sama lo…” kata Sivia yang masih menutup rapat-rapat kedua matanya.
            “iye..iye…” kata Alvin sebal sambil memasang baju kaosnya.
            “udah belom?”
            “belom”
            “lama amat sih?”
            “sabar dikit kek! Sekarang buka mata lo, gue udah selese….” Jawab Alvin sembari duduk ditepi ranjangnya.
            Sivia langsung berbalik menatap Alvin yang saat itu terlihat santĂ©-sante aja. Nggak ada rasa bersalah sama sekali!
            “lo mau ngomong apa?” Tanya Alvin dingin. Matanya menatap tajam kearah Sivia.
            Sivia berjalan mendekati Alvin dengan tatapan pembunuh. Sementara Alvin ia langsung menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya,
            “mau apa lo? Jangan macem-macem ya…?” ancam Alvin. Memangnya Alvin fikir Sivia mau ngapain? Dasar lebay!
            “jadi lo belom bilang ke Nyokap lo kalo kita udah putus?” Tanya Sivia galak.
            “pertanyaan nggak penting!” semprot Alvin.
            Sivia menghela nafas panjang. Kenapa sih cowok satu ini selalu bikin Sivia kesel setangah mampus? Alvin selalu aja gitu, kalo ditanya baik-baik nggak pernah mau jawab baik-baik. Hmmm…. Emangnya tadi Sivia nanya dengan cara baik-baik ya?
            “kalo gue nanya ya lo jawab!” bentak Sivia,
            “kalo gue nggak mau jawab memangnya kenapa?”
            “lo harus jawab!” kata Sivia dengan tegas. Alvin berdiri tepat dihadapan Sivia, jarak mereka begitu dekat. Tatapan mata Alvin yang sangat tajam bikin jantung Sivia dagdigdug nggak karuan. Duuhh… kenapa sih gue? Masih aja suka deg-degan kalo Alvin natap gue kayak gitu? Gumam Sivia dalam hati.
            “dan lo sendiri kenapa belom bilang ke Nyokap lo kalo kita udah putus…?” bukannya menjawab Alvin malah bertanya balik.
            “masih berani lo nanya kayak gitu ke gue. Tanya ama diri lo sendiri, menurut lo kalo tiba-tiba sebuah hubungan yang udah direstuin penuh ama kedua orang tua tiba-tiba putus ditengah jalan gara-gara si Cowok selingkuh lo harus gimana ke ortu lo?”
Pertanyaan Sivia kali ini bener-bener bikin Alvin bungkam. Tapi kenapa sih Sivia masih aja berfikir kalo hubungan mereka putus gara-gara Alvin selingkuh? Alvin kan nggak pernah selingkuh, Sivia aja yang waktu itu nggak mau ngasih kesempatan Alvin buat ngejelasin semuanya?
“gue nggak pernah selingkuh!” kata Alvin dengan tegas,
“emangnya ada maling yang mau ngaku? Udah deh gue nggak mau bahas yang dulu-dulu lagi, sekarang yang penting itu gimana caranya supaya kedua orang tua kita tau kalo sebenernya tuh kita udah putus, itu aja dulu”
Hening sejenak. Kedua bola mata Alvin masih mengarah tepat pada kedua bola mata Sivia. Nggak lama kemudian Alvin mendekatkan wajahnya dengan wajah Sivia. Sivia yang kaget plus shock setengah mati langsung berkata,
“mau ngapain lo?”
Alvin nggak sedikitpun menggubris ucapan Sivia. Dulu juga Alvin pernah ngelakuin ini ke Sivia, Sivia sempet ingin menolak, tapi pesona Alvin yang bener-bener kuat waktu itu bikin Sivia nggak bisa berkutik. Tapi kali ini Sivia nggak akan kena lagi, enak aja Si Alvin maen nyosor-nyosor, mereka kan udah putus.
“eh, inget ya kalo kita udah putus!” kata Sivia lagi berusaha memperingatkan Alvin, tapi Alvin tetep aja nggak menggubris ucapan Sivia.
Jarak wajah mereka semakin dekat saja. Tiba-tiba Sivia nggak tau harus ngelakuin apa, Sivia pun memejamkan kedua matanya. Satu detik…. Dua detik… nggak terjadi apa-apa. Sivia masih memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan….
“lo fikir sendiri, gue mau tidur!” kata Alvin dengan galak lantas beranjak ketempat tidurnya.
Sivia membuka kedua matanya. Sebenernya sih Sivia malu karna kejadian tadi, Alvinnya juga sih mau ngomong kayak gitu aja pake acara ngedeketin wajahnya dengan wajah Sivia segala, Sivia kan jadi salah paham.
“perlu ya sampe kayak gitu? Ngasih tau sih ngasih tau tapi nggak perlu kan lo bersikap seolah-olah lo mau nyium gue…”
“elo nya aja yang over pede…” kata Alvin cuek sembari menutupi tubuhnya dengan selimut. Sivia semakin kesal, ia melangkah besar-besar mendekati Alvin,
“heh, lo jangan lari dari tanggung jawab dong….” Ucap Sivia sambil berkacak pinggang,
“emangnya gue udah ngapain lo?” Tanya Alvin datar, ia masih bersembunyi dibalik selimutnya.
“Alviinnnnn……” kesal Sivia seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Alvin. Nggak cukup sampe disitu, Sivia menarik-narik tangan Alvin dan memaksanya supaya bangkit dari tempat tidurnya,
“gue nggak mau tau, pokoknya lo harus tanggung jawab, lo bilang tuh ke Nyokap lo kalo kita udah putus…”
“lo bilang aja sendiri…” kata Alvin cuek. Ia kembali berusaha menarik selimutnya,
“nggak bisa, elo yang harus bilang”
“males….”
“Alvin ayo bangun…” Sivia masih menarik tangan Alvin,
“apaan sih? Lepas nggak tangan gue? Gue mau tidur…”
“nggak mau sebelum lo bilang ke Nyokap lo…”
Tarikan Sivia yang lumayan kuat akhirnya membuat Alvin terjatuh dari tempat tidurnya. Nggak Cuma itu, Alvin dan Sivia tergeletak dilantai dengan posisi Alvin menindih tubuh Sivia,
“aww…” rintih mereka berdua. Sejenak mereka berdua saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba saja Sivia merasakan kedua pipinya mulai memanas. Getaran yang mengganggu itu kembali Sivia rasakan tapi Alvin malah terlihat biasa-biasa saja.
“heh, lo berat tau! Buruan minggir…” ucap Sivia yang berusaha menutupi kegugupannya.
“tanpa lo suruhpun juga gue udah mau minggir….”
Belum sempat Alvin bangkit secara tiba-tiba pintu kamar Alvin terbuka. Menyembullah Mama dari balik pintu. Kedua mata Mama langsung membelalak mendapati posisi Alvin dan Sivia yang bisa dibilang mencurigakan.
“Alvin, Sivia kalian ngapain?” Tanya Mama yang sedang dalam keadaan setengah shock.
Alvin dan Sivia langsung berdiri sambil mengusap-usap pakaian mereka.
“ng…nggak ngapain-ngapain kok Tan…?” jawab Sivia dengan gugup. Alvin berusaha terlihat santai.
Mama berjalan mendekati Alvin dan Sivia. Beliau menatap Alvin dan Sivia secara bergantian dengan tatapan curiga.
“Mama ngapain sih ngeliatin kita kayak gitu amat? Kita nggak ngapa-ngapain kok, tadi Cuma jatuh aja dari tempat tidur”
“jatuh dari tempat tidur? Emangnya kalian udah ngapain diatas tempat tidur?” Tanya Mama yang semakin curiga. Ups, Alvin ternyata salah ngomong.
“ta..tadi… ta…di…” Sivia semakin gugup, ia nggak tau gimana harus ngejelasin semuanya ke Mama Alvin,
“Mama nggak usah mikir macem-macem deh, kita nggak ngapa-ngapain kok, percaya deh….” Kata Alvin,
“Alvin, Sivia, Mama tau kalo kalian itu saling sayang, saling cinta, tapi belom saatnya kalian nglakuin itu, inget kalian masih sekolah, perjalanan kalian masih panjang…” ujar Mama.
“aduh, Mama nggak usah sok ngasih nasehat deh, kita nggak ngapa-ngapain kok, Mama salah paham….”
“jangan diulangin lagi ya?” itulah ucapan Mama yang terakhir sebelum akhirnya beliau keluar dari kamar Alvin.
Beberapa saat setelah Mama pergi…..
“ini semua gara-gara lo tau, nggak disekolah, nggak dirumah gue, nggak dimana-mana, lo selalu aja bikin masalah sama gue…”
“heh, kok lo jadi nyalahin gue sih, lo fikir gue nggak malu apa kepergok sama nyokap lo dalam posisi mencurigakan kayak tadi…?”
“FIKIR SENDIRI!” kata Alvin lalu keluar menyusul Mamanya.
Lagi-lagi Sivia kesel sama Alvin. Kenapa sih harus ada cowok semenyebalkan Alvin yang hidup dimuka bumi ini?

^_^

            “Hwaaaa….. gue benci sama lo Alviinnnnn…..” teriak Sivia didalam kamarnya sambil meninju-ninju boneka tedy bear pemberian Alvin  dulu.
            Kekesalannya pada Alvin, Sivia tumpahkan habis pada boneka teddy bear itu. Sivia juga nggak ngerti kenapa sampai sekarang Sivia belum bisa menyingkirkan boneka teddy bear itu dari kamarnya. Yang jelas semenjak putus dari Alvin beberapa bulan yang lalu Sivia nggak pernah memindahkan boneka itu dari kamarnya, boneka itu terus ada dikamarnya sejak Alvin pertama kali memberikannya hingga sekarang. Entah alas an apa yang bikin Sivia tetap menyimpan boneka itu.
            Kalau Sivia lagi kesel, marah, sebel atau apapun sama Alvin, Sivia pasti akan menjadikan boneka itu sebagai pelampiasannya. Emang agak aneh sih, tapi itulah Sivia.
            Setelah merasa bosan melampiaskan segala emosinya pada boneka itupun Sivia langsung merebahkan tubuhnya ditempat tidur. Entah gimana ceritanya, ingatan Sivia kembali ke masa lalu.
            Sivia nggak sadar kalau dia udah ngehabisin banyak waktu Cuma buat nginget kenangannya sama Alvin dulu. Sesekali Sivia tersenyum. Boneka tedy bear yang tadi Sivia tonjok-tonjok malah sekarang dia peluk dengan erat.
            “nggak tau kenapa gue tiba-tiba kangen sama lo Kodok…” gumam Sivia tanpa sadar.


^_^
            “Alviinnn!!” panggil Shilla dari kejauhan seraya berlari kecil menghampiri Alvin. Alvin berdecak dan langsung menampakkan ekspresi malas.
            “kenapa, Shill….?” Alvin berbalik dan melihat kearah Shilla.
            “tadi malem lo kok nggak bales sms gue sih…?”
            “semalem gue lagi belajar…” alibi Alvin. Shilla Cuma mengangguk dan berusaha mempercayai Alvin,
            “kenapa lo nyamperin gue…?” Tanya Alvin.
            Sebelum menjawab pertanyaan Alvin, Shilla menggandeng lengan Alvin. Kalau boleh jujur sebenernya Alvin risih banget pas Shilla ngegandeng lengannya, tapi Alvin juga nggak bisa berbuat apa-apa. Dia nggak bisa dong bikin Shilla malu didepan orang banyak, jadi Alvin terima-terima aja gandengan itu.
            “nanti pulang sekolah lo ada acara nggak….?”
            “kenapa?”
            “gue mau ngajakin lo  nonton, lo mau kan….?”
            Shilla udah yakin banget kalau Alvin akan nerima ajakan dia, tapi ternyata Shilla salah. Saat Alvin akan menolak ajakan Shilla tiba-tiba saja mata Alvin tertuju pada Sivia yang waktu itu berjalan mendekati mereka. Saat jarak Sivia sudah beberapa centi dari jaraknya Alvin langsung melihat kearah Shilla. Ia memasang raut wajah sok manis lantas berkata,
            “IYA DONG…. Udah pasti gue mau nonton sama lo! Jangankan nonton, lo ajak ke Pluto pun gue mau…” kata Alvin lebay yang sebenarnya Cuma ingin memanasi Sivia.
            Lagi-lagi Alvin sukses. Sivia cemburu setengah mati, tapi tetep aja Sivia nggak mau nunjukin itu didepan Alvin.
            “lebay….” Sungut Sivia saat melewati Alvin dan Shilla.
            “kayaknya ada suara nih, tapi kok nggak ada orangnya sih?” kata Alvin datar tanpa ekspresi.
            Sivia nggak sedikitpun menggubris omongan Alvin. Ia tetap berjalan tanpa sedikitpun menoleh kearah Alvin. Apa-apaan sih Alvin? Kenapa dia selalu aja usaha buat bikin Sivia cemburu?
            Nasib sial emang lagi ngikutin Sivia pagi itu. Saat melewati lapangan basket kepalanya malah kena lemparan bola. Sivia merasakan sakit yang bener-bener sakit dibagian kepalanya, pengelihatannya jadi berkunang-kunang dan Sivia hampir saja nggak bisa mengimbangi dirinya.
            Alvin yang saat itu berada nggak jauh dari posisi Sivia sekarang terlihat sedikit cemas.
            “aww…” rintih Sivia sambil memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.
            Alvin berniat menghampiri Sivia dan hendak membantunya, namun sayang Alvin membatalkan niatnya seketika saat ia ngelihat seorang cowok yang mengenakan kostum basket mendekati Sivia dengan ekspresi yang nggak kalah cemasnya dari ekspresi Alvin sekarang.
            “sorry, gue nggak sengaja… lo nggak apa-apa kan…?” Tanya cowok berkulit hitam manis itu pada Sivia. Sivia nggak menjawab, dalam hati ia masih sempat memuji ketampanan cowok yang ternyata adalah kapten Tim basket SMK PATUH KARYA itu.
            “nggak apa-apa kok!” jawab Sivia sok kuat. Tapi nggak lama kemudian, ‘BRUKKKK’. Sivia jatuh pingsan nggak sadarkan diri ditepi lapangan.




                        BERSAMBUNG……



#NB: HARAP KOMENTARNYA KALO MAU TETEP LANJUT! :D

#repost:
bagi kalian yang suka dengan tulisan tulisannya,silahkan untuk berkungjung ke link  duniasukasukamimy.blogspot.co.id untuk membaca cerber cerber berikut nya.